Did You Know?
Terima kasih Pengunjungku :
Custom Search
Showing posts with label NTU. Show all posts
Showing posts with label NTU. Show all posts
Tuesday, April 14, 2009
Tim Verifikasi Independen Yakin 99 Persen David Dibunuh
1 comments Posted by Emilia SP at Tuesday, April 14, 2009JAKARTA, KOMPAS.com —
Tim verifikasi independen menemukan dugaan kuat bahwa David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia yang meninggal di Singapura, tewas dibunuh. Tim yang diketuai blogger Iwan Piliang ini menyimpulkan hal itu dari hasil rekonstruksi tim, bukti-bukti tertulis, dan hasil otopsi yang diterima pihak keluarga.
“Hasil otopsi membuktikan bahwa ditemukan 36 luka, 14 di antaranya luka karena pisau, umumnya di bagian tangan, sisanya luka memar termasuk di bagian leher dan luka dalam,” jelas Iwan Piliang kepada wartawan saat jumpa pers di restoran Munik, Matraman, Jakarta, Senin (13/4).
Iwan menjelaskan, hasil otopsi dari pihak kepolisian justru diberikan kepada pihak kampus Nanyang Technology University (NTU) sebelum diberikan kepada keluarga. Padahal, seharusnya hasil otopsi pihak Kepolisian Singapura diberikan kepada pihak keluarga melalui KBRI di Singapura. Hasil otopsi memang sudah dikirimkan kepada pihak keluarga melalui kiriman paket 3 April lalu.
“Kejanggalannya, kenapa hasil otopsi diserahkan dulu ke pihak kampus, sedangkan keluarga saja belum menerima,” katanya.
Ia menjelaskan juga, menurut hasil rekonstruksi kematian David yang dilakukan tim verifikasi, keluarga, dan media dari Indonesia menunjukkan, David itu meninggal karena dibunuh. “Bisa dilihat dari posisi pisau itu jatuhnya 150 meter dari David dan satu lantai di bawah tempat David jatuh, ini menjadi kejanggalan tersendiri,” tegasnya.
Selain itu, bercak darah justru ditemukan di sekitar tempat Profesor Chan Kap Luk, bukan di tempat David menuju jembatan tempat ia menjatuhkan diri. “Jadi, ada dugaan David sempat melakukan pembelaan diri melalui letak bercak darah itu,” jelasnya.
Iwan menjelaskan melalui foto-foto seorang wartawan koran Singapura, Strait Times, rekonstruksi itu dilakukan didampingi oleh intelijen dari KBRI. “Pihak intelijen juga menduga kuat, David 99 persen dibunuh, terutama dengan kejanggalan-kejanggalan, pihak keluarga tak boleh bertemu Presiden NTU dan Profesor Chan Kap Luk apalagi media massa Singapura,” ujar Iwan.
Proses rekonstruksi dan mengumpulkan sejumlah bukti termasuk menemui Profesor Chan Kap Luk dan Presiden NTU Su Guaning juga sudah dilakukan. Selama sepekan, mereka melakukan investigasi independen termasuk mewawancarai sejumlah teman dekat David yang memberi keterangan berbeda-beda.
Sementara itu, menurut ibu David, Lie Khiun, David tak pernah memegang pisau sejak kecil. “Ia tak pernah memasak apapun dengan pisau, kalau makan buah, ia memilih membeli jus daripada mengupas buah. Maka saya tak percaya kalau ia bisa memegang pisau, apalagi menusuk profesor,” kata ibu David dengan mata berkaca-kaca.
Dari keterangan ibu David, menurut Iwan, semakin memperkuat dugaan bahwa David itu memang telah dibunuh.
Sebelumnya diberitakan oleh media massa Singapura bahwa David yang mendapat beasiswa sekolah di NTU diduga akan membunuh profesornya, Chan Kap Luk, dan bunuh diri. Keterangan ini didapat dari Presiden NTU Su Guaning yang dilansir hampir semua media di Singapura. Padahal, proses penyidikan oleh pihak Kepolisian Singapura belum selesai dan belum ada bukti mengarah ke pernyataan Presiden NTU tersebut.
http://www.kompas.com/read/xml/2009/04/13/165553/Tim.Verifikasi.Independen.Yakin.99.Persen.David.Dibunuh
Tim verifikasi independen menemukan dugaan kuat bahwa David Hartanto Widjaja, mahasiswa Indonesia yang meninggal di Singapura, tewas dibunuh. Tim yang diketuai blogger Iwan Piliang ini menyimpulkan hal itu dari hasil rekonstruksi tim, bukti-bukti tertulis, dan hasil otopsi yang diterima pihak keluarga.
“Hasil otopsi membuktikan bahwa ditemukan 36 luka, 14 di antaranya luka karena pisau, umumnya di bagian tangan, sisanya luka memar termasuk di bagian leher dan luka dalam,” jelas Iwan Piliang kepada wartawan saat jumpa pers di restoran Munik, Matraman, Jakarta, Senin (13/4).
Iwan menjelaskan, hasil otopsi dari pihak kepolisian justru diberikan kepada pihak kampus Nanyang Technology University (NTU) sebelum diberikan kepada keluarga. Padahal, seharusnya hasil otopsi pihak Kepolisian Singapura diberikan kepada pihak keluarga melalui KBRI di Singapura. Hasil otopsi memang sudah dikirimkan kepada pihak keluarga melalui kiriman paket 3 April lalu.
“Kejanggalannya, kenapa hasil otopsi diserahkan dulu ke pihak kampus, sedangkan keluarga saja belum menerima,” katanya.
Ia menjelaskan juga, menurut hasil rekonstruksi kematian David yang dilakukan tim verifikasi, keluarga, dan media dari Indonesia menunjukkan, David itu meninggal karena dibunuh. “Bisa dilihat dari posisi pisau itu jatuhnya 150 meter dari David dan satu lantai di bawah tempat David jatuh, ini menjadi kejanggalan tersendiri,” tegasnya.
Selain itu, bercak darah justru ditemukan di sekitar tempat Profesor Chan Kap Luk, bukan di tempat David menuju jembatan tempat ia menjatuhkan diri. “Jadi, ada dugaan David sempat melakukan pembelaan diri melalui letak bercak darah itu,” jelasnya.
Iwan menjelaskan melalui foto-foto seorang wartawan koran Singapura, Strait Times, rekonstruksi itu dilakukan didampingi oleh intelijen dari KBRI. “Pihak intelijen juga menduga kuat, David 99 persen dibunuh, terutama dengan kejanggalan-kejanggalan, pihak keluarga tak boleh bertemu Presiden NTU dan Profesor Chan Kap Luk apalagi media massa Singapura,” ujar Iwan.
Proses rekonstruksi dan mengumpulkan sejumlah bukti termasuk menemui Profesor Chan Kap Luk dan Presiden NTU Su Guaning juga sudah dilakukan. Selama sepekan, mereka melakukan investigasi independen termasuk mewawancarai sejumlah teman dekat David yang memberi keterangan berbeda-beda.
Sementara itu, menurut ibu David, Lie Khiun, David tak pernah memegang pisau sejak kecil. “Ia tak pernah memasak apapun dengan pisau, kalau makan buah, ia memilih membeli jus daripada mengupas buah. Maka saya tak percaya kalau ia bisa memegang pisau, apalagi menusuk profesor,” kata ibu David dengan mata berkaca-kaca.
Dari keterangan ibu David, menurut Iwan, semakin memperkuat dugaan bahwa David itu memang telah dibunuh.
Sebelumnya diberitakan oleh media massa Singapura bahwa David yang mendapat beasiswa sekolah di NTU diduga akan membunuh profesornya, Chan Kap Luk, dan bunuh diri. Keterangan ini didapat dari Presiden NTU Su Guaning yang dilansir hampir semua media di Singapura. Padahal, proses penyidikan oleh pihak Kepolisian Singapura belum selesai dan belum ada bukti mengarah ke pernyataan Presiden NTU tersebut.
http://www.kompas.com/read/xml/2009/04/13/165553/Tim.Verifikasi.Independen.Yakin.99.Persen.David.Dibunuh
Wah kalo memang di dibunuh profesor nya pasti hasil penelitiannya "sangat berharga" sampai harus ditebus dengan nyawa...untuk itu pemerintah Indonesia harus serius dalam menangani kasus ini....
Labels: David Hartanto Widjaja, News, NTU, olimpiade matematika
Wednesday, March 4, 2009
David Tikam Profesor karena Beasiswanya Dicabut
2 comments Posted by Emilia SP at Wednesday, March 04, 2009Berita duka dari Singapura, tentang David wakil Indonesia di Olimpiade Matematika Asia Pasifik dan juara Olimpiade Sains Nasional pada 2004. :
Kompas, Rabu, 4 Maret 2009 10:05 WIB
SINGAPURA, SELASA — Banyak yang bertanya-tanya apa alasan David Hartanto Widjaja (21) mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Mahasiswa tingkat akhir asal Indonesia di Fakultas Teknik Elektro dan Elektronika Universitas Teknologi Nanyang (NTU) itu diduga stres karena beasiswa yang diterimanya telah dicabut akhir bulan lalu. Padahal, skripsi yang dikerjakannya cukup sulit dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
Hal inilah yang diduga memicu keputusan wakil Indonesia di Olimpiade Matematika Internasional 2005 itu untuk menusuk dosen pembimbingnya, Profesor Chan Kap Lup (45), lalu bunuh diri.
Setelah menikam Chan, David yang sebetulnya berotak encer karena mendapat beasiswa di NTU itu mengiris pergelangan tangannya sendiri dan kemudian bunuh diri dengan cara terjun dari lantai IV Gedung Fakultas Teknik NTU Singapura.
Juru bicara NTU mengungkapkan, David memang tengah mengerjakan skripsi berjudul "Multiview Acquisition from Multi-camera Configuration for Person Adaptive 3D Display". Profesor Chan merupakan dosen pembimbingnya. Dalam tugas akhir ini David berupaya mengembangkan penggunaan multikamera untuk mendapatkan pandangan ganda berupa tiga dimensi yang bisa dilihat dari beberapa posisi.
Tugas akhir ini cukup meyakinkan karena didukung kemampuan matematika dan program C/C++ yang dimiliki David. Semasa di SMAK Penabur 1 Jakarta, selain ke Olimpiade Matematika Internasional, David juga pernah menjadi salah satu wakil Indonesia di Olimpiade Matematika Asia Pasifik dan juara Olimpiade Sains Nasional pada 2004.
Kasus penikaman dosen yang berujung bunuh diri pelakunya ini kemarin menjadi pembicaraan hangat para mahasiswa, terutama para mahasiswa NTU sendiri.
Beberapa mahasiswa menyebut kemungkinan besar David mengalami tingkat stres yang tinggi karena menjadi mahasiswa teknik. Salah satu mahasiswa, Wise Guy, mengakui, menjadi mahasiswa teknik sangat sulit dan membuat gelisah setiap saat.
“Perkuliahan yang sering diadakan, laporan laboratorium, proyek-proyek, dan laporan hingga kehidupan sosial. Stres bisa menghampiri kapan saja. Pada saat itulah Anda harus bisa mengatasinya,” tulisnya.
Terry, mahasiswa lainnya, menulis, aktivitas yang sibuk selalu mewarnai kehidupan mahasiwa teknik. “Di saat-saat tertentu saya kadang merasa stres, tetapi saya tidak pernah berpikir untuk menusuk seorang dosen lalu meloncat untuk bunuh diri,” tulis Terry.
Sementara itu, pejabat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura menduga David kecewa akibat dihentikannya beasiswa yang diterimanya. Ia juga yakin David menusuk orang yang salah, mengingat sang profesor tidak memutuskan apa-apa terhadap beasiswa tersebut. “Tak ada masalah dengan profesor ini. Ia bukan orang yang menentukan pencabutan beasiswa. Staf NTU mengungkapkan, kemungkinan David salah sasaran,” tutur Djatmiko, pejabat protokoler KBRI Singapura.
Kata Djatmiko, sebetulnya saat ini merupakan tahun terakhir beasiswanya dan David sepertinya bingung. Padahal, ia bisa bekerja paruh waktu untuk menambahi biaya hidupnya. David menerima beasiswa ASEAN empat tahun lalu. Beasiswa ini untuk membiayai perkuliahannya di NTU. Setiap tahun ia menerima 5.800 dollar Singapura.
Sementara itu, Antara memberitakan, jenazah David kemarin telah dikremasi atau dibakar di Moday Cremation Singapura, Senin (3/3) sore. “Namun, keluarganya akan pulang membawa abu jenazah Davis pada Rabu,” kata Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Singapura Yayan GH Mulyana di Singapura, Selasa.
Sebelum dikremasi, jenazah David diotopsi di Singapore General Hospital untuk mengetahui penyebab pasti kematian mahasiswa tingkat akhir itu. Hasil otopsi baru akan diumumkan pihak Singapura sebulan kemudian.
Keputusan mengkremasi jenazah David dilakukan ayah dan ibu David setelah berkonsultasi dengan keluarga di Jakarta. Proses kremasi disaksikan ayah, ibu, dan kakak David serta perwakilan dari KBRI di Singapura. straits times/tis
Sumber : Kompas.com
SINGAPURA, SELASA — Banyak yang bertanya-tanya apa alasan David Hartanto Widjaja (21) mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Mahasiswa tingkat akhir asal Indonesia di Fakultas Teknik Elektro dan Elektronika Universitas Teknologi Nanyang (NTU) itu diduga stres karena beasiswa yang diterimanya telah dicabut akhir bulan lalu. Padahal, skripsi yang dikerjakannya cukup sulit dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya.
Hal inilah yang diduga memicu keputusan wakil Indonesia di Olimpiade Matematika Internasional 2005 itu untuk menusuk dosen pembimbingnya, Profesor Chan Kap Lup (45), lalu bunuh diri.
Setelah menikam Chan, David yang sebetulnya berotak encer karena mendapat beasiswa di NTU itu mengiris pergelangan tangannya sendiri dan kemudian bunuh diri dengan cara terjun dari lantai IV Gedung Fakultas Teknik NTU Singapura.
Juru bicara NTU mengungkapkan, David memang tengah mengerjakan skripsi berjudul "Multiview Acquisition from Multi-camera Configuration for Person Adaptive 3D Display". Profesor Chan merupakan dosen pembimbingnya. Dalam tugas akhir ini David berupaya mengembangkan penggunaan multikamera untuk mendapatkan pandangan ganda berupa tiga dimensi yang bisa dilihat dari beberapa posisi.
Tugas akhir ini cukup meyakinkan karena didukung kemampuan matematika dan program C/C++ yang dimiliki David. Semasa di SMAK Penabur 1 Jakarta, selain ke Olimpiade Matematika Internasional, David juga pernah menjadi salah satu wakil Indonesia di Olimpiade Matematika Asia Pasifik dan juara Olimpiade Sains Nasional pada 2004.
Kasus penikaman dosen yang berujung bunuh diri pelakunya ini kemarin menjadi pembicaraan hangat para mahasiswa, terutama para mahasiswa NTU sendiri.
Beberapa mahasiswa menyebut kemungkinan besar David mengalami tingkat stres yang tinggi karena menjadi mahasiswa teknik. Salah satu mahasiswa, Wise Guy, mengakui, menjadi mahasiswa teknik sangat sulit dan membuat gelisah setiap saat.
“Perkuliahan yang sering diadakan, laporan laboratorium, proyek-proyek, dan laporan hingga kehidupan sosial. Stres bisa menghampiri kapan saja. Pada saat itulah Anda harus bisa mengatasinya,” tulisnya.
Terry, mahasiswa lainnya, menulis, aktivitas yang sibuk selalu mewarnai kehidupan mahasiwa teknik. “Di saat-saat tertentu saya kadang merasa stres, tetapi saya tidak pernah berpikir untuk menusuk seorang dosen lalu meloncat untuk bunuh diri,” tulis Terry.
Sementara itu, pejabat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura menduga David kecewa akibat dihentikannya beasiswa yang diterimanya. Ia juga yakin David menusuk orang yang salah, mengingat sang profesor tidak memutuskan apa-apa terhadap beasiswa tersebut. “Tak ada masalah dengan profesor ini. Ia bukan orang yang menentukan pencabutan beasiswa. Staf NTU mengungkapkan, kemungkinan David salah sasaran,” tutur Djatmiko, pejabat protokoler KBRI Singapura.
Kata Djatmiko, sebetulnya saat ini merupakan tahun terakhir beasiswanya dan David sepertinya bingung. Padahal, ia bisa bekerja paruh waktu untuk menambahi biaya hidupnya. David menerima beasiswa ASEAN empat tahun lalu. Beasiswa ini untuk membiayai perkuliahannya di NTU. Setiap tahun ia menerima 5.800 dollar Singapura.
Sementara itu, Antara memberitakan, jenazah David kemarin telah dikremasi atau dibakar di Moday Cremation Singapura, Senin (3/3) sore. “Namun, keluarganya akan pulang membawa abu jenazah Davis pada Rabu,” kata Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Singapura Yayan GH Mulyana di Singapura, Selasa.
Sebelum dikremasi, jenazah David diotopsi di Singapore General Hospital untuk mengetahui penyebab pasti kematian mahasiswa tingkat akhir itu. Hasil otopsi baru akan diumumkan pihak Singapura sebulan kemudian.
Keputusan mengkremasi jenazah David dilakukan ayah dan ibu David setelah berkonsultasi dengan keluarga di Jakarta. Proses kremasi disaksikan ayah, ibu, dan kakak David serta perwakilan dari KBRI di Singapura. straits times/tis
Sumber : Kompas.com
Labels: beasiswa, David Hartanto Widjaja, News, NTU, olimpiade matematika
Saturday, February 21, 2009
Aksi Bajak Siswa Cerdas Berbakat Peserta Olimpiade Sains
1 comments Posted by Emilia SP at Saturday, February 21, 2009
Bajak membajak siswa cerdas berbakat ternyata telah terjadi di sekolah-sekolah mulai sejak tingkat SMP, ini di alami oleh temanku yang anaknya menjadi juara di olimpiade sains tingkat nasional, di datangi oleh salah satu sekolah internasional di tangerang yang menawari beasiswa 'Gratis' biaya masuk, biaya pendidikan dan lain-lainya jika mau masuk ke sekolah mereka. Dan ini juga di tawarkan kepada juara-juara yang lainnya.Sekolah-sekolah yang mengirimkan siswa nya ke event-event olimpiade sains, sekarang jadi harus berhati-hati dan siap-siap sajalah siswanya di bajak atau pindah sekolah.
Membajak siswa cerdas? mereka kurang sependapat, karena para siswa berkemampuan di atas rata-rata itu adalah aset, sehingga mereka berani memberi beasiswa buat siswa-siswa berbakat.
Demi prestise? mereka tidak menolak anggapan itu, kehadiran jago-jago Olimpiade Sains di Sekolah mereka, tentu bakal mendongkrak nama sekolah mereka walaupun sekolah baru berdiri.
Persaingan berebut siswa-siswa cerdas juga terjadi terjadi antar universitas Asia, tapi sudah mengglobal. Massachussets Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat (AS), Nanyang Technological University (NTU)Singapura misalnya, dikenal getol menawari beasiswa para peraih medali emas IPhO. Kini ada 25 alumnus IPhO Indonesia yang belajar di NTU .
Seperti Pangus Ho peserta Olimpiade Fisika Internasional ke-37 asal indonesia, Bangun pagi-pagi, mengaku terkejut, saat didapatinya formulir pendaftaran Nanyang Technological University (NTU)Singapura, diselipkan di bawah pintu kamar hotelnya. Sebelumnya, anggota tim Olimpiade Fisika Internasional ke-37 ini sempat dihampiri salah seorang profesor dan di tawari Beasiswa penuh baginya bila meneruskan studi di NTU.
Tapi bagi Pangus Ho, kuliah di luar negeri bukan 'hidangan' yang menarik, meski ia ditawari kuliah gratis di NTU tahun depan. "Saya tidak suka suasana belajar di Singapura. Di sini semua orang takut kalah," selorohnya.
Pangus menyebutnya kiasu, istilah populer di Singapura yang artinya persaingan amat keras. Ia khawatir, semangat yang menjadikan setiap orang tak mau kalah itu, membuatnya mementingkan diri sendiri alias individualis. "Kondisinya amat stres, tidak ada kebebasan, tidak enak."
Andika Putra, peraih medali emas IPhO ke-36 di Spanyol, serupa dengan Pangus. Ia menolak mentah-mentah tawaran beasiswa NTU. Kuliah di ITB lebih ia pilih, setelah diterima lewat jalur Ujian Saringan Masuk Prestasi tahun ini. "Bukan karena ada kontrak kerja selama tiga tahun, tapi iklim di sini (Singapura) tidak menyenangkan. Saya dengar banyak cerita teman-teman. Ego para siswa amat besar. Tidak enjoy untuk kuliah," katanya.
Peraih medali emas IPhO ke-37, Andy Octavian Latief, juga memilih jurusan Fisika UI melalui jalur PMDK, meski ia telah didatangi seorang profesor di NTU. Saat ditanya bukankah kuliah di luar negeri lebih terjamin kualitasnya? Andy menjawab, "Nggak juga. Sama saja-lah."
Perguruan tinggi asing (PTA) setiap tahun ''membajak'' sekitar 300 anak pintar dan genius dari Tanah Air.
Mereka memperoleh fasilitas sekolah gratis selama menempuh pendidikan di luar negeri. Konsekuensinya tentu saja kelak akan bekerja dan mengabdikan dirinya di tanah seberang.
sumber Republika, (17/6), milis tetangga, foto : beritabaru.com
Subscribe to:
Posts (Atom)















