CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Did You Know?

Visit Yogyakarta / Jogja

Terima kasih Pengunjungku :

Custom Search

Saturday, February 21, 2009

Bajak membajak siswa cerdas berbakat ternyata telah terjadi di sekolah-sekolah mulai sejak tingkat SMP, ini di alami oleh temanku yang anaknya menjadi juara di olimpiade sains tingkat nasional, di datangi oleh salah satu sekolah internasional di tangerang yang menawari beasiswa 'Gratis' biaya masuk, biaya pendidikan dan lain-lainya jika mau masuk ke sekolah mereka. Dan ini juga di tawarkan kepada juara-juara yang lainnya.

Sekolah-sekolah yang mengirimkan siswa nya ke event-event olimpiade sains, sekarang jadi harus berhati-hati dan siap-siap sajalah siswanya di bajak atau pindah sekolah.

Membajak siswa cerdas? mereka kurang sependapat, karena para siswa berkemampuan di atas rata-rata itu adalah aset, sehingga mereka berani memberi beasiswa buat siswa-siswa berbakat.

Demi prestise? mereka tidak menolak anggapan itu, kehadiran jago-jago Olimpiade Sains di Sekolah mereka, tentu bakal mendongkrak nama sekolah mereka walaupun sekolah baru berdiri.

Persaingan berebut siswa-siswa cerdas juga terjadi terjadi antar universitas Asia, tapi sudah mengglobal. Massachussets Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat (AS), Nanyang Technological University (NTU)Singapura misalnya, dikenal getol menawari beasiswa para peraih medali emas IPhO. Kini ada 25 alumnus IPhO Indonesia yang belajar di NTU .

Seperti Pangus Ho peserta Olimpiade Fisika Internasional ke-37 asal indonesia, Bangun pagi-pagi, mengaku terkejut, saat didapatinya formulir pendaftaran Nanyang Technological University (NTU)Singapura, diselipkan di bawah pintu kamar hotelnya. Sebelumnya, anggota tim Olimpiade Fisika Internasional ke-37 ini sempat dihampiri salah seorang profesor dan di tawari Beasiswa penuh baginya bila meneruskan studi di NTU.

Tapi bagi Pangus Ho, kuliah di luar negeri bukan 'hidangan' yang menarik, meski ia ditawari kuliah gratis di NTU tahun depan. "Saya tidak suka suasana belajar di Singapura. Di sini semua orang takut kalah," selorohnya.

Pangus menyebutnya kiasu, istilah populer di Singapura yang artinya persaingan amat keras. Ia khawatir, semangat yang menjadikan setiap orang tak mau kalah itu, membuatnya mementingkan diri sendiri alias individualis. "Kondisinya amat stres, tidak ada kebebasan, tidak enak."

Andika Putra, peraih medali emas IPhO ke-36 di Spanyol, serupa dengan Pangus. Ia menolak mentah-mentah tawaran beasiswa NTU. Kuliah di ITB lebih ia pilih, setelah diterima lewat jalur Ujian Saringan Masuk Prestasi tahun ini. "Bukan karena ada kontrak kerja selama tiga tahun, tapi iklim di sini (Singapura) tidak menyenangkan. Saya dengar banyak cerita teman-teman. Ego para siswa amat besar. Tidak enjoy untuk kuliah," katanya.

Peraih medali emas IPhO ke-37, Andy Octavian Latief, juga memilih jurusan Fisika UI melalui jalur PMDK, meski ia telah didatangi seorang profesor di NTU. Saat ditanya bukankah kuliah di luar negeri lebih terjamin kualitasnya? Andy menjawab, "Nggak juga. Sama saja-lah."

Perguruan tinggi asing (PTA) setiap tahun ''membajak'' sekitar 300 anak pintar dan genius dari Tanah Air.
Mereka memperoleh fasilitas sekolah gratis selama menempuh pendidikan di luar negeri. Konsekuensinya tentu saja kelak akan bekerja dan mengabdikan dirinya di tanah seberang.
sumber Republika, (17/6), milis tetangga, foto : beritabaru.com

1 Comment:

  1. marsudiyanto said...
    Sama mbak, di tempat saya juga seperti itu...

Post a Comment



My Video Channel:

Watch videos at Vodpod and more of my videos

KOMPAS.com - Sains

Info Pendidikan

About Singkong Indonesia (MSI)